Jejak Langkah Sandal Jepit
Di sebuah desa kecil yang tenang, suara adzan Maghrib selalu menjadi penanda dimulainya kehidupan malam di bulan Ramadhan. Jalanan tanah yang biasanya sepi mulai ramai oleh langkah warga yang berjalan menuju masjid. Di antara langkah-langkah itu, ada satu suara khas yang selalu terdengar — cek… cek… cek… suara sandal jepit yang sederhana.
Sandal itu milik Raka, seorang anak desa berusia empat belas tahun. Sandal jepit biru kusam itu bukan sandal baru. Talinya pernah putus dan diikat kembali dengan kawat kecil oleh ayahnya. Meski begitu, sandal itu selalu setia menemani Raka setiap Ramadhan.
Setiap sore, setelah membantu ibunya menyiapkan takjil, Raka bergegas mengambil wudhu. Ia lalu memakai sandal jepitnya dan berjalan menyusuri pematang sawah menuju masjid desa. Angin sore membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang mulai bernyanyi.
Lampu masjid yang hangat terlihat dari kejauhan.
Langkah Raka mungkin sederhana, tapi baginya perjalanan itu selalu terasa istimewa. Di sepanjang jalan, ia sering berpapasan dengan Pak Hasan yang membawa sajadah tua, anak-anak kecil yang berlari sambil tertawa, serta kakek-kakek yang berjalan pelan dengan tongkat kayu.
Semua menuju tempat yang sama.
Masjid.
Suatu malam, hujan turun deras menjelang Isya. Jalanan menjadi licin dan berlumpur. Raka sempat ragu. Sandalnya tipis, air hujan dingin menusuk kaki. Namun dari kejauhan, suara adzan tetap menggema.
Ia menatap sandalnya.
“Kalau sandal ini saja tetap kuat menemani, masa aku menyerah?” gumamnya.
Raka pun tetap berjalan. Lumpur menempel di telapak sandal, bajunya sedikit basah, tetapi hatinya terasa hangat saat sampai di serambi masjid. Di sana, deretan sandal jepit berbagai warna berjajar rapi — seolah menjadi saksi langkah-langkah keimanan warga desa.
Di bulan Ramadhan itu, Raka mulai memahami sesuatu.
Bahwa menuju masjid bukan soal sepatu mahal atau pakaian terbaik. Yang terpenting adalah niat dan langkah yang terus diusahakan.
Malam demi malam berlalu. Sandal jepit itu meninggalkan jejak di jalan desa — jejak kecil yang mungkin akan hilang tertutup hujan, tetapi tersimpan dalam ingatan dan kebiasaan baik yang tumbuh di hati.
Dan setiap suara cek… cek… cek… di jalan menuju masjid, selalu menjadi pengingat:
bahwa perjalanan menuju kebaikan sering dimulai dari langkah paling sederhana…
bahkan dari sepasang sandal jepit.
Kamis, 8 Ramadhan 1447 - 26 Februari 2026
Penulis - Lukman

Komentar
Posting Komentar